Saya membaca berita-berita di website informatif tentang Indonesia, dan tergelitik dengan beberapa isi berita dan beberapa komentar dari pembacanya. Sebagian besar berita yang saya baca adalah tentang kondisi Indonesia yang menghadapi berbagai masalah. Contohnya masalah pengemis yang masih merajalela di kota-kota besar (contoh sumber), banjir di jakarta (contoh sumber), rendahnya kualitas pelayanan transportasi umum (contoh sumber), dan lain-lain.
Saya melihat begitu banyak masalah di Indonesia, so obvious, saya pun sering mengalaminya. Dan saat menghadapi masalah tersebut, biasanya saya sebagai rakyat seringkali berpikir, “astaga.. buruknya pemerintah. tidak bisa mengatasi masalah ini itu.” Saat saya menghadapi macet, “pemerintah gak bener nih rancang jalannya“. Saat saya melihat masalah pengemis, “masih aja pengemis dimana2. Katanya dah ada program pemberantasan kemiskinan, kemana aja tuh duitnya“. Saat saya menghadapi banjir, “ooooy, ini si kumis katanya ahli, mana buktinya..“
Tidak ingin menuding, tapi saya yakin pikiran-pikiran itu pasti dibenarkan oleh banyak orang. Itu yang saya ingin bahas di artikel ini. Sebelumnya saya ingin menekankan bahwa saya tidak bertujuan untuk membela atau menyerang pihak-pihak tertentu. Saya hanya ingin berpikiran terbuka.
Pertanyaannya adalah, mengapa kita berpikir bahwa semua masalah harus diselesaikan oleh pemerintah?
Some may say, iya lah.. Pemerintah kan yang punya kekuasaan untuk menentukan kebijakan2, yang punya dana, yang punya kekuatan. Yes, it is true. Memang pemerintah memiliki kewajiban untuk mengatur dan menyediakan kehidupan yang layak dan kondusif untuk masyarakatnya. I agree 100% with that. Tapi jangan lupa, kita sebagai masyarakat juga punya kewajiban. Contohnya, kewajiban untuk membayar pajak, merawat sarana dan prasarana umum, menaati peraturan yang ada, dan lain-lain. Sudahkah kita memenuhi kewajiban kita?
Saya ingin bercerita sedikit. Saat saya masih sekolah, sejak SD ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Disitu intinya saya belajar tentang bagaimana menjadi masyarakat Indonesia yang baik. Terkadang pertanyaan saat ujian atau latihan soal, murid diberikan contoh kasus yang terjadi di masyarakat dan diharuskan untuk memberi solusi. Saya bisa mendapat jawaban tersebut dari apa yang dijelaskan oleh guru atau dari buku. Satu hal yang saya amati, apapun masalahnya, jika saya berikan solusi seperti “seharusnya pemerintah begini begitu” atau “ini bergantung dari ketanggapan pemerintah untuk bla bla bla..”, pasti jawaban saya dianggap benar. True story. Saya baru menyadari hal ini, inikah yang menyebabkan saya terbiasa melempar masalah ke pemerintah? Mungkin saja.
Seringkali kita menuntut pemerintah untuk melakukan ini-itu, tetapi kita sendiri tidak menjalankan kewajiban kita. Contohnya, kita selalu kecewa dengan banjir yang terjadi di kota-kota besar. Ya benar, pemerintah memang harus menangani masalah banjir ini, dengan cara membangun lebih banyak taman kota, membatasi pembangunan gedung dan membangun aliran air yang baik. Dan memang benar bahwa pemerintah belum berhasil melakukan hal tersebut secara maksimal. Tetapi coba lihat dari sisi lain. Saya sangat yakin kita sebagai masyarakat sudah tahu bahwa salah satu penyebab banjir adalah sampah yang menutupi aliran air dan membuat air meluap. Apakah kita sudah patuh membuang sampah di tempat sampah?
Contoh lain adalah, transportasi umum yang buruk, salah satunya kereta api. Saya setuju, memang masih buruk, dengan segala komplain yang saya bisa lontarkan. Seharusnya pemerintah menyediakan transportasi yang layak dan nyaman untuk masyarakat. Tetapi mari kita lihat lagi. Apakah kita sudah membayar tiket sesuai tarif? Apakah kita sudah antri dengan benar? Apakah kita merawat sarana transportasi tersebut? Artikel ini sangat bagus untuk dibaca “9 Kebiasaan Buruk Orang Indonesia saat Menggunakan Media Transportasi Umum“
Dari dua contoh tersebut, saya melihat bahwa sebenarnya banyak hal yang kita, walaupun hanya sebagai masyarakat, bisa lakukan. Minimal memenuhi kewajiban sebagai masyarakat. Saya yakin, semakin banyak masyarakat yang menjalani hal tersebut, pasti ada perubahan yang terlihat ke arah yang lebih baik. Walaupun tidak serta merta masalah tersebut selesai, tetapi masyarakat pun memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Jika mau dipikir lebih jauh lagi, bahkan masyarakat bisa mempunyai dana ataupun kekuasaan, contohnya kasus prita (contoh sumber). Kita bisa kan?
Memang kalau ditelusuri lebih jauh lagi, pasti ada hal-hal yang membuat kita enggan untuk melaksanakan kewajiban. Contohnya, “nanti kalo bayar pajak, uangnya lari ke Gayus donk, rugi!” atau “ah, ngapain ngantri, orang lain juga gak ngantri. kalo gw ngantri, kapan dapetnya” atau “buang sampah di jalan aja deh. toh sampah di jalan dah banyak, nambah satu gak papa lah“. Saya juga sering mengalami itu. Lalu jika semua orang berpikiran seperti itu, kapan masalahnya akan selesai? Deadlock. Orang buang sampah sembarangan -> banjir -> pemerintah bersihkan sungai -> banjir reda -> orang tetap buang sampah sembarangan -> banjir lagi. Lalu apakah itu tetap kesalahan pemerintah?
Sekali lagi, saya jelaskan bahwa saya tidak bermaksud membela pemerintah, karena saya juga sudah muak dengan buruknya pemerintah. Saya juga tidak berkata bahwa saya sudah menjadi masyarakat yang sempurna, ayo kalian juga donk! Not at all! Saya akui saya masih buruk juga. Saya masih sering melanggar peraturan, kadang malas antri, malas bayar pajak, dan banyak lagi. Yang saya ingin tunjukkan di sini adalah, saya sebagai masyarakat juga masih bisa berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya menunggu pemerintah. Ya kan?
